Sabtu, 19 Juni 2010

Kanibalisme dan Kematian Bagi Suku Asmat







Kanibalisme dan pengayauan kepala. Kata-kata ini membuat orang-orang takut. Dengan identiknya Suku Asmat dengan kanibalisme maka tumbuh stereotype mengenai Suku Asmat. Orang mendengar Suku Asmat sebagai sebuah kata yang menjadi sinonim untuk kanibal. Pada tahun 1961, dalam sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh Rokefeller Jr, putra seorang gubernur negara bagian New York, menghilang ke dalam hutan bakau di daerah ini. Menurut kabar, Rokefeller Jr menjadi korban kanibalisme Suku Asmat. Pada tahun 1968 dua orang misionaris Australia dan Amerika Stan Dole dan Phil Masters dikabarkan dicincang dan dimakan oleh Suku Asmat.

Selain fakta bahwa Asmat adalah kanibal dan pemburu “kepala”, mereka juga "diburu untuk nama". Setiap orang diberi nama setelah seseorang meninggal, atau setelah membunuh musuh. Seorang anak kadang-kadang diberi nama sepuluh tahun setelah lahir, dan setelah desa menetapkan untuk membunuh seorang laki-laki dari desa musuh di dekatnya. Mereka harus mempelajari nama laki-laki yang mereka bunuh, dan kemudian membawa tengkorak ke desa mereka.

Dahulu, peristiwa mengerikan ini merupakan hal biasa bagi orang-orang Asmat. Hal itu dikarenakan, kehidupan suku Asmat pada waktu itu penuh diliputi peperangan antar-clan dan antarwilayah. Pada umumnya, yang menjadi pangkal persengketaan di antaranya, masalah pelanggaran batas daerah sagu, pencurian ulat sagu, perzinahan, ataupun hanya sekedar sakit hati. Mulanya konflik yang terjadi hanya berasal dari dua orang yang berselisih, namun berubah menjadi konflik antarkeluarga. Makin lama, konflik kian berkembang menjadi konflik antarclan hingga akhirnya semakin membesar menjadi konflik antarwilayah. Akhirnya, pecahlah peperangan antarwilayah yang berujung pada kayau mengayau kepala orang dan kanibalisme.

Awal pengayauan kepala dan kanibalisme ini, berasal dari mitos yang hidup pada orang-orang Asmat. Mitos ini menceritakan tentang kakak beradik Desoipits dan Biwiripits. Diceritakan, saat itu laki-laki dewasa dari wilayah mereka sedang berperang, namun mereka tidak ikut. Desoipits merasa punya kewajiban untuk membantu, dan dia menyuruh adiknya Biwiripits untuk memenggal kepalanya. Bersikeras Desoipits menyuruh Biwiripits agar mau memenggal kepalanya. Namun, Biwiripits tetap tak mau memenggal kepala Desoipits, siapa yang tega memenggal kepala saudaranya sendiri.

Semakin kuat Biwiripits menolak, semakin keras pula desakan Desoipits agar adiknya mau memenggalkan kepalanya. Akhirnya, Biwiripits tak tahan dengan desakan kakaknya. Dengan terpaksa, Biwiripits akhirnya memberanikan diri memenggal kepala Desoipits. Namun, keanehan terjadi saat itu. Suara Biwiripits masih terdengar. Entah bagaimana bisa terjadi, kepala Biwiripits yang telah dipenggal masih bisa bicara. Merasa caranya tak berhasil, Desoipits kembali mendesak Biwiripits untuk memotong-motong tubuhnya. Selain itu Desoipits memerintahkan agar tubuhnya dibagikan kepada para pahlawan yang pulang berperang. Karena tak bisa menolak lagi, Biwiripits kembali menuruti permintaan Desoipits. Potongan tubuh Desoipits dibagikan kepada para pahlawan perang sebagai makanan bagi mereka. Sejak saat itulah, timbul kebiasaan memakan daging dan memenggal kepala manusia.

Maka dari itu, pengayauan dan kanibalisme, dilakukan orang-orang Asmat setelah mereka berperang. Musuh yang telah mati ditombak, dibawa pulang ke kampung dengan perahu lesung panjang. Dengan penuh kebanggaan, mereka membawa mayat musuh, diiringi nyanyi-nyanyian. Setibanya di kampung, mereka disambut oleh orang-orang Asmat. Mayat yang telah dibawa mulai dipotong-potong dan dibagikan kepada semua penduduk untuk dimakan. Sambil menyanyikan lagu kematian, kepalanya dipenggal lalu dipanggang. Begitu juga dengan otaknya, dibungkus dengan daun sagu untuk kemudian turut dipanggang. Tengkorak kepala musuh yang telah dipenggal kemudian dipajang untuk memperlihatkan kebesaran dan keperkasaan atau juga sebagai penolak bala.

Acara pengayauan kepala dan kanibalisme sebagai cara orang asmat memandang sebuah kematian, jauh berbeda dengan upacara kematian bagi keluarga yang ditinggal mati. Walaupun suku Asmat terlihat sadis dengan kanibalismenya, namun disisi lain terdapat sisi kemanusiaan yang mendalam pada diri orang-orang Asmat. Hal ini dapat terlihat saat terdapat salah satu anggota keluarga orang Asmat yang meninggal.

Mereka yakin bahwa setiap manusia mempunyai paling sedikit enam jiwa yang menjiwai beberapa bagian tubuh yang berlainan. Berbagai macam penyakit yang diketahui oleh orang Asmat disebabkan karena jiwa yang menjiwai bagian tubuh yang sakit itu sedang pergi atau menghilang. Itulah sebabnya cara dan teknik yang digunakan dukun penyakit namer ow untuk menyembuhkan orang sakit adalah dengan mengupayakan atau membujuk jiwa yang pergi itu agar kembali ke tubuh si sakit tadi. Apabila beberapa jiwa yang telah pergi dan tak dapat dibujuk agar kembali, si sakit yang bersangkutan akan meninggal.

Dengan tidak adanya upaya medis yang dilakukan untuk menyembuhkan orang sakit, maka tidak heran jika tingkat kematian Suku Asmat sangat tinggi. Jika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga memanggil dukun penyakit namer ow. Keluarga terdekat sudah berkumpul sambil meratap dan menangis, karena mereka percaya anggota keluarga yang sakit akan segera mati. Keluarga tidak berani mendekatinya karena mereka juga percaya, si sakit akan "membawa" keluarga yang paling dicintainya untuk menemaninya.

Ratapan dan tangisan semua anggota keluarga terus berlangsung. Semuanya semakin menjadi, tatkala diketahui bahwa keluarga yang sakit sudah meninggal. Mereka tak bisa menahan luapan kesedihan, atas meninggalnya anggota keluarga mereka. Semua anggota keluarga berebut memeluk mayat yang tak lain adalah anggota keluarga mereka. Rasa duka cita yang tak tertahankan, akhirnya berubah menjadi tindakan yang tak terkendali. Anggota keluarga terdekat mengguling-gulingkan tubuhnya di atas lumpur. Kerabat lainnya berusaha menenangkan dan menjaga agar anggota keluarga yang mengguling-gulingkan tubuhnya di atas lumpur, tidak melukai dirinya sendiri.

Ekspresi duka cita orang-orang Asmat terhadap anggota keluarga yang meninggal dunia memang tak terkendali. Tak jarang orang yang mengguling-gulingkan tubuhnya di atas lumpur, melukai dirinya sendiri. Rasa duka cita yang mendalam juga ditunjukan dengan menangis setiap hari bahkan sampai berbulan-bulan. Ada pula sebagian anggota keluarga yang melumuri seluruh tubuhnya dengan lumpur dan mencukur habis rambutnya. Bagi yang sudah menikah, berjanji tidak akan menikah lagi (walau nantinya menikah juga). Terdapat juga beberapa anggota keluarga yang menutupi kepala dan wajahnya agar agar tidak menarik bagi orang lain.

Sementara itu, orang-orang didekat rumah kematian telah melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan saat ada orang yang meninggal. Setiap lubang dan jalan masuk (kecuali jalan masuk utama) disemua rumah ditutup, dengan maksud menghalangi roh-roh jahat. Mereka percaya bahwa banyak roh jahat yang berkeliaran pada saat-saat menjelang kematian. Maka, dengan ditutupnya semua lubang di rumah roh-roh jahat tidak akan bisa masuk.

Dalam upacara kematian, jenazah orang-orang Asmat tidak dikuburkan keluarganya. Jenazah tersebut diletakan di atas panggung di luar rumah panjang. Hal ini dibiarkan, hingga tulang belulang saja yang tersisa dari jenazah. Tulang-tulang inilah yang nantinya dikuburkan. Sementara itu, tengkorak kepalanya diambil dan dipergunakan sebagai bantal. Hal ini dilakukan untuk menunjukan rasa cinta kasih kepada keluarga yang meninggal. Selain itu, terdapat cara lain yang dilakukan dalam "memperlakukan" jenazah. Jenazah diletakan di atas perahu lesung panjang yang telah dipenuhi perbekalan seperti sagu dan ulat sagu. Perahu lesung panjang tersebut kemudian dilepas ke sungai untuk seterusnya terbawa arus ke laut, menuju peristirahatan terakhir para roh.

Demikian konsepsi orang Asmat tentang maut. Maut adalah perginya satu atau beberapa jiwa manusia untuk tak kembali lagi. Jiwa-jiwa yang membebaskan diri dari tubuh orang itu menjadi ruh yang berkeliaran sekitar tempat tinggal manusia. Sesudah beberapa waktu tertentu ruh akan pergi ke dunia ruh di belakang ufuk, dan hidup abadi di sana atau setelah beberapa waktu kembali ke bumi dan hidup kembali dalam tubuh seorang bayi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar